Trauma Setelah Liputan: Tip Bagi Wartawan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Profesi wartawan berat. Tapi proses penyembuhan trauma setelah liputan bencana juga harus diutamakan. Kredit/Pixabay

Jurnalis merupakan salah satu profesi yang rawan stres karena berurusan dengan banyak orang dan menjadi saksi liputan yang bisa menyebabkan trauma. Begitu pula saat meliput bencana dan meliput konflik atau peristiwa yang memakan korban jiwa.

Pemandangan melihat darah, mayat, kehidupan pengungsi, dan peristiwa traumatik tentu akan mempengaruhi mental jurnalis. Tak bakal mudah menghapusnya, apalagi jika peristiwa tersebut disaksikan secara beruntun yang bisa saja mengakibatkan wartawan sulit tidur atau sulit bekerja dan melakukan kegiatan lain.

Jurnalis peliput bencana di Tempo, Hussein Abri, memandang pemulihan mental untuk para jurnalis peliput bencana amat diperlukan yang berpengaruh pada produktivitas pekerjaan dan kesehatan mental jangka panjang.

Dalam ilmu psikologi, trauma ini tak bisa dianggap sepele. Trauma adalah disfungsi jiwa yang terjadi sebagai akibat peristiwa traumatik. Ketika trauma mengarah pada gangguan stres, maka akan terjadi disfungsi yang melibatkan perubahan fisik dan kimia di dalam otak, dan mengubah respon seseorang terhadap suatu hal yang terjadi padanya. “Untuk menghindari hal ini pada jurnalis, sebaiknya jurnalis yang selesai meliput bencana diberikan pemulihan psikologis atau disebut dengan trauma healing,” kata Whinda Yustisio, pakar psikologi Universitas Indonesia.

Beberapa hal yang bisa dilakukan jurnalis adalah membuat jurnal, berbicara dengan teman dan keluarga, berbicara dengan editor, dan berbicara dengan konseling. Namun, budaya kolektivisme di Indonesia menyebabkan banyak jurnalis segan berbicara. Takut dianggap sebagai beban bagi ruang redaksi atau beban bagi teman.

“Ini bisa dicegah dengan membuat jurnal sehingga wartawan memproses apa yang terjadi pada dirinya sendiri,” kata Whinda.

Dinamika ruang redaksi yang amat cepat menjadikan trauma menjadi lebih baik atau justru memburuk. Wartawan peliput bencana ditugaskan ke lokasi lain sebelum sempat diberi waktu libur untuk istirahat setelah liputan traumatik.

“Kalau kejadiannya begitu ada dua kemungkinan. Ada jurnalis yang bisa langsung pindah kerja meliput topik lain sehingga melupakan peristiwa traumatik. Tapi kemungkinan buruknya, proses penyembuhan tidak langsung dilakukan setelah liputan sehingga berpotensi menjadi bertumpuk ke depannya,” kata dia.

Berikut tip pemulihan trauma setelah liputan bencana bagi jurnalis:

1. Ingat jika profesi wartawan tak imun

“Jurnalis adalah responden pertama lokasi bencana,” kata Whinda. Ketika ada masalah, orang lain mungkin lari dari tempat kejadian tetapi wartawan bergegas ke sana. Agar tetap tangguh dan efektif, penting untuk diingat bahwa stres dapat terakumulasi.

Tetap sadar dan waspada dengan kesehatan emosional sendiri. Jangan mengabaikan tanda-tanda ketika Anda membutuhkan dukungan. Ini memungkinkan Anda untuk menangkap masalah apa pun yang muncul sejak awal akibat meliput bencana dan mengelolanya dengan tepat.

2. Kenali tanda trauma dengan sering menulis jurnal

Jurnalis harus sadar potensi sendiri ketika ada masalah dan bagaimana mengatasinya. Artinya, mengenali tanda-tanda ketika Anda sedang down, butuh bantuan, atau butuh istirahat.

Setiap orang memiliki kebiasaan ketika ada masalah atau ingatan buruk menimpa. Misalnya, seseorang menjadi pendiam ketika teringat peristiwa traumatik, menjadi pemarah, atau menghilang. Kenali tanda-tanda ini pada diri Anda sendiri.

Psikolog menyarankan agar wartawan membuat jurnal dan menuliskan cara mengatasi krisis. Misalnya, ketika ada perasaan bersalah, tuliskan kenapa rasa bersalah itu muncul–apakah karena melihat para pengungsi yang kehausan saat meliput banjir atau karena melihat periatiwa traumatik lain. Tuliskan bahwa Anda juga manusia dan tak punya kontrol atas kejadian apapun. Setelah itu meditasi. Yakinkan secara berulang bahwa Anda melihat kejadian traumatik tadi, tetapi bukan kuasa Anda sebagai jurnalis untuk mengatasinya.

3. Liburan dan rawat diri

Ambil waktu istirahat untuk melawan stres. Kerja jurnalis amat penuh tekanan tenggat waktu, kesulitan menghubungi sumber, dan stres karena profesi ini memiliki standar amat tinggi di mata publik.

“Melawan stres ini bisa meningkatkan kemampuan kita untuk bekerja dan berkegiatan secara efektif dan profesional,” kata Whinda. “Jurnalis yang tangguh juga perlu cukup istirahat.”

Siklus berita 24 jam merupakan tantangan yang diakui oleh banyak jurnalis sebagai faktor penyebab stres, tetapi rencakan sesuatu yang menyenangkan untuk dinantikan di akhir hari kerja agar dapat mengurangi stres tersebut.

“Pikirkan tentang ketika selesai kerja hari ini mau ngapain, ya. Mau memasak enak, mau nonton film di Netflix, atau mau jalan-jalan,” kata Whinda. “Yang paling penting adalah tidak mikirin kerja sama sekali ketika sedang istirahat atau sedang liburan. Jangan mau diganggu editor atau diganggu narasumber.”

Tip lainnya, kata Whinda, bisa seperti mengambil hari libur khusus untuk bebas dari berita dan teknologi. Kerja jurnalis yang terus diberondong dan dipaksa mengetahui berita terbaru bisa menyebabkan akumulasi stres. Ada pentingnya mematikan insting wartawan sesekali agar tak terus dikelilingi berita di luar sana yang menambah beban pikiran dan menyebabkan jurnalis ingin bekerja.

4. Meski budaya kolektif, jangan malu meminta bantuan

Budaya di Indonesia yang cenderung kolektif menyebabkan orang cenderung segan meminta bantuan karena tak ingin merepotkan orang sekitar. Menurut Whinda, cara mengatasinya adalah dengan mengubah pikiran semacam itu.

Nah, jangan pernah takut meminta bantuan ini. Orang Indonesia jarang mau meminta bantuan ke teman untuk urusan kesehatan mental karena berpikir takut merepotkan dan takut mengganggu. Takut juga minta tolong ke redaksi karena berpikir gangguan kesehatan mental yang mereka alami tak ada artinya atau tak sebanding dengan beban kerja redaksi.

Padahal orang-orang yang dimintau tolong bisa sangat membantu. Cerita ke teman dan keluarga bisa mengurangi internalisasi stres akibat melihat peristiwa traumatik. Sementara bercerita ke mentor Anda di ruang redaksi bisa membantu Anda untuk mendapatkan bantuan lain seperti dirujuk ke konseling.

Teks: Indri Maulidar

ARTIKEL TERKAIT

RISET