Riset: Kerugian Akibat Kebakaran Gambut di Tanjung Jabung Timur, Jambi 2002-2014

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kebakaran hutan dan lahan di Jambi. Kredit Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Riset baru ini dibacakan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science yang diselenggarakan pada 2020 lalu. Lima peneliti asal Institut Pertanian Bogor menghitung kerugian ekonomi akibat kebakaran gambut di perkebunan sawit di Tanjung Jabung Timur, Jambi periode 2002-2014.

Perhitungan kerugian ekonomi dilakukan dengan merujuk Peraturan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2014. Mereka menghitung antara lain kerugian ekonomi akibat polusi udara, kerusakan lingkungan dan ekologi, serta kerugian akibat kerusakan barang dan jasa karena kebakaran gambut tersebut.

Penelitian dapat diakses di sini. Berikut beberapa poin penting dari penelitian ini:

Berbasis Peta. Penelitian ini memetakan dulu area yang terbakar di Tanjung Jabung Timur selama 2002 hingga 2014. Dari 164 ribu hektare lahan yang dipetakan, peneliti menghitung valuasi ekonomi akibat kebakaran gambut di area lahan yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan sawit kecil maupun besar.

Dominan Gambut. Dari 164 ribu hektare lahan yang rawan kebakaran di Tanjung Jabung Timur, lebih dari setengahnya (65,3%) berada di lahan gambut. Sisanya berada di lahan hutan biasa. Kedalaman lahan gambut yang rawan kebakaran ini bervariasi dari satu hingga dua meter. Sebagian juga amat dalam hingga empat meter. Perhitungan potensi kebakaran berbasis pada analisa satelit Terra/Aqua Modis hotspot data.

Hingga empat triliun. Jika seluruh lahan gambut di Tanjung Jabung Timur terbakar, kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 4,4 triliun. Perhitungan ini tergabung dengan kerugian yang bakal dialami perkebunan minyak sawit skala kecil atau besar. Kerugian terbanyak berasal dari hilangnya barang dan jasa akibat api.

Kerugian akibat emisi karbon. Peneliti juga memperkirakan emisi karbon yang dikeluarkan oleh lahan gambut yang terbakar bisa mencapai lima kali lebih banyak dibanding emisi karbon yang terlepas secara alami tanpa kebakaran di lahan yang sama.

Mitigasi. Peneliti merekomendasikan mitigasi yang komprehensif dari pemangku kebijakan di Lampung untuk menghindari kabakaran hutan dan lahan gambut. Apalagi, penelitian ini menunjukkan kerugian terbanyak bakal dialami perkebunan sawit skala kecil.

Peneliti utama dalam artikel ilmiah ini adalah Erianto Indra Putra. Ia adalah ahli manajemen hutan, kebakaran hutan dan lahan, serta pengawasan keberlangsungan hutan. Ia dapat dihubungi di laman Facebook.

Teks: Indri Maulidar

ARTIKEL TERKAIT

RISET