Agar Tulisan Lebih Kaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Hasil riset bencana serta mendengar perspektif sains memperkaya liputan jurnalis. Kredit/Pixabay

Menulis berita bencana yang memiliki perspektif luas adalah tantangan. Riset terbaru kerap dijadikan jurnalis hanya sebagai judul berita bombastis tanpa konteks. Padahal proses riset amat kompleks dan dibangun berdasar riset sebelumnya. Hasil riset juga mempertimbangkan ketidakpastian karena tidak ada pengetahuan mutlak yang muncul dari satu artikel ilmiah. Hal ini yang lalai dilakukan wartawan saat menulis berita sains.

Sangkot Marzuki, presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (2008-2018) dan salah satu pendiri The Conversation Indonesia, mengatakan berita bencana di Indonesia cenderung hanya mengandalkan peristiwa dan jarang bersifat investigasi ilmiah. Jika pun ada, itu berasal dari riset baru atau laporan pemerintah yang panjang, penuh dengan jargon, kualifikasi, statistik, dan model ilmiah.

“Sebenarnya ini juga bukan hanya kelalaian wartawan. Periset juga harus punya keahlian untuk mengkomunikasian hasil temuannya dengan baik dan holistik. Jangan mau ditekan untuk mengeluarkan pernyataan bombastis demi dikutip media,” kata Sangkot.

Karena kompleknya masalah kebencanaan yang beragam di Indonesia, Sangkot mengatakan wartawan peliput bencana juga harus rajin melongok dan membaca riset terbaru. Ini bisa digunakan sebagai berita untuk menagih upaya mitigasi pemerintah, atau berita follow-up setelah bencana terjadi.

Riset bencana di Indonesia bisa ditemukan di:

Teks: Indri Maulidar

ARTIKEL TERKAIT

RISET