Menangkal Misinformasi Bencana

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Webinar yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen untuk membantu jurnalis memilah informasi selama meliput bencana agar tak terjebak arus misinformasi.

Bencana hoaks dan misinformasi juga menjadi ancaman yang berpotensi tinggi terjadi saat bencana alam melanda. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, semenjak Agustus 2018 hingga Maret 2020, ada 258 konten hoaks yang terdeteksi tersebar di masyarakat. Disinformasi saat bencana amat fatal karena ada proses evakuasi dan tanggap darurat yang masih berlangsung sehingga masyarakat terdampak bencana masih waswas dan mudah terpengaruh informasi salah.

Di sini pentingnya peran media. Asnil Bambani, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, mengatakan peran media massa lebih dibutuhkan publik sebagai clearing house atau memberikan informasi yang mencerahkan saat konten hoaks beredar di media massa.

“Wartawan jadi harus rajin memantau isu di media sosial dan menangkalnya dengan berita sehingga publik tidak mengkonsumsi kabar bohong,” kata dia.

Tak hanya itu, kadang wartawan juga berperan menyebarkan klaim tak berdasar. Kasus terbaru terjadi ketika jurnalis dan media memberitakan mengenai tanaman herbal sebagai obat virus Covid-19 dengan mengutip pernyataan oleh orang yang mengklaim diri sebagai pakar. Demi untuk menarik pembaca dan penonton sebanyak-banyaknya, media mengabaikan verifikasi dan validasi yang ketat terkait klaim-klaim tanaman herbal tersebut, sehingga menimbulkan disinformasi di masyarakat. Pemberitaan pun bisa berdampak pada penurunan kewaspadaan atas bahaya penyebaran Covid-19.

Aliansi Jurnalis Independen menggelar webinar pada awal Maret 2021 mengenai penangkalan misinformasi bencana. Webinar yang berjudul “Banyak Bencana Banyak Hoaks: Belajar dari Fact Checker” ini diselenggarakan untuk wartawan peliput bencana. Para pemateri adalah Bentang Febrylian, fact checker dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia; Moses Parlindungan, dari AFP Fact Checking Journalist; dan Zainuddin Monggilo, dosen di Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Webinar ini memberikan banyak materi penting.

Moses Parlindungan dari AFP Fact Checking Journalist mengatakan hoaks yang sering muncul saat bencana ada tiga jenis. Pertama, video atau foto lama dengan klaim salah. Kedua, prediksi bencana susulan seperti gempa bumi. Padahal gempa bumi tak bisa diprediksi seperti tsunami. Ketiga, hoaks pengaitan bencana dengan tokoh politik tertentu. “Konten hoaks yang tersebar variatif dan kadang dimirip-miripkan dengan artikel dari portal berita tertentu,” kata dia.

Berikut beberapa tip bagi wartawan untuk mengkonfirmasi dan mengecek ulang misinformasi saat bencana:

  • Install ekstensi untuk Google Chrome bernama Invid & WeVerify. Ekstensi ini melakukan pencarian gambar ulang di Google untuk memeriksa konten diduga hoaks.
  • Tulis artikel yang membantah hoaks dengan bahasa yang mudah dicerna publik.
  • Jurnalis harus telaten dan tidak termakan emosi saat melakukan cek fakta.
  • Wawancarai pakar untuk kembali menekankan sisi sains bencana agar masyarakat tak mudah percaya hoaks berulang.
  • Hindari mewawancarai pihak yang tidak otoritatif terkait bencana, karena berpotensi menimbulkan misinformasi dan bias pelaporan kebencanaan.
  • Jika ada klaim tak berdasar mengenai proses mitigasi atau rehabilitasi bencana yang mulai ramai dibicarakan publik, pastikan untuk mewawancarai beberapa ahli di bidang tersebut untuk memverifikasinya.
  • Menyederhanakan istilah bahasa asing, seperti social distancing menjadi jaga jarak aman sehingga mudah dipahami oleh publik. Penggunaan diksi yang salah ataupun tidak tepat oleh jurnalis dalam melaporkan bencana dan krisis berpotensi menimbulkan misinformasi di masyarakat. Hal ini berlaku juga bagi redaktur atau produser di ruang redaksi.

Teks: Indri Maulidar

ARTIKEL TERKAIT

RISET