Bawa Apa Sebelum Liputan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Infografis barang-barang penting yang perlu dibawa jurnalis saat ke lokasi bencana.

Jangan panik ketika Anda mendapat penugasan meliput bencana di suatu daerah terpencil. Lakukan berbagai riset agar Anda tahu wilayah yang akan dituju dan tahu barang apa saja yang harus dibawa ke tempat liputan.

Lokasi bencana dan jenis bencana yang akan dituju biasanya menentukan barang apa saja yang harus Anda bawa ke lokasi. Ketika meliput banjir, misalnya, jurnalis perlu mencatat bawaan penting yang terdiri dari sepatu karet anti bocor, jas hujan, dan membawa tas anti air agar peralatan liputan tidak rusak. Sementara saat meliput bencana gempa, sepatu standar industri yang melindungi kaki dari benda keras patut dipersiapkan jurnalis. Lain kagi standar saat meliput kebakaran hutan.

Infografis di atas dapat jurnalis pergunakan sebagai pengingat sebelum meliput ke daerah bencana. Kebutuhan-kebutuhan standar di atas dapat diperoleh dengan mudah di kota tempat jurnalist tinggal. Persiapkan barang-barang di atas sebelum berangkat ke lokasi bencana–jangan menunggu ketika tiba di daerah.

Beberapa di antaranya:

  • Alat liputan

Jangan membawa barang elektronik yang tidak perlu. Kebanyakan smartphone terbaru sudah dapat digunakan untuk merekam dan memfoto. Bila Anda adalah jurnalis tulis, sebaiknya hindari membawa barang elektronik seperti kamera atau alat perekam jika tidak terlalu diperlukan. Ini untuk menghindari Anda menjadi korban perampokan. Apalagi di daerah-daerah di Indonesia, bencana kerap diwarnai dengan perompakan sejumlah toko.

  • Pakaian sesuai cuaca

Cuaca di Indonesia rata-rata berkisar antara 25 derajat Celcius hingga 33 derajat Celcius (dalam Fahrenheit, berkisar antara 80 hingga 95 derajat Fahrenheit). Sebelum berangkat, pastikan pakaian yang Anda bawa sesuai cuaca di daerah tempat bencana, serta menyesuaikan pula dengan bencana yang diliput. Jas hujan dan sepatu karet adalah bawaan wajib saat meliput banjir, sementara sepatu standar industri cocok saat meliput bencana gempa. Sebaiknya pilih baju-baju ringan dari bahan kaos, flanel, atau linen karena ringan sehingga mudah dikemas, cepat kering, dan cocok dengan segala cuaca di Indonesia. Bawa pula tas ransel yang gampang dibawa-bawa. Hindari membawa koper.

  • Makanan, minuman, dan obat pribadi

Di lokasi bencana di Indonesia, besar kemungkinan persediaan makanan dan minuman menjadi langka apalagi dalam fase awal bencana. Saat responden bencana tiba, mereka biasanya hanya membawa persediaan makanan terbatas yang diutamakan untuk korban bencana dan para responden. Agar tak ikut membebani para responden awal bencana, bawa makanan dan minuman ringan dari lokasi tempat Anda tinggal. Bawa makanan cepat saji yang gampang dimasak seperti mi instan, beras, dan roti. Bawa pula penyaring air agar jurnalis tak perlu membawa air kemasan berbotol-botol. Obat pribadi juga perlu. Bawa pula masker, pembersih tangan, dan bawa pula peralatan P3K (first aid kit).

  • Alat pelindung diri dan alat penunjang liputan

Mulai dari perahu karet saat meliput banjir, jaket pengaman, respirator saat meliput kebakaran hutan atau wabah, hingga senter. Tip lain: bawa barang-bawang pelindung diri dan penunjang liputan ini dari kota tempat Anda berangkat. Di lokasi bencana, barang-barang ini bakal sulit dicari.

  • Penunjang transportasi

Saat Tsunami Aceh 2004, bensin menjadi barang amat langka karena ketersediannya terbatas. Di awal-awal tanggap bencana, harganya mencapai hingga Rp 100 ribu per liter. Pertimbangkan banyak hal sebelum membawa bensin ke lokasi bencana. Pertama, Anda akan liputan dengan apa saat tiba di lokasi? Apakah akan menyewa mobil atau motor? Pilihan ini memungkinkan jurnalis meliput dengan angle sendiri tanpa perlu tergantung orang lain. Namun harus mempertimbangkan biaya sewa transportasi yang biasanya naik saat bencana. Bagaimana jika bensin habis saat menyewa mobil? Hal-hal ini harus menjadi catatan.

Opsi lainnya adalah menumpang kendaraan para responden seperti Palang Merah, pegawai Badan SAR, tentara, atau menumpang kendaraan relawan bencana. Jurnalis yang memilih menumpang ini biasanya tak bebas karena harus mengikuti jadwal para petugas yang mereka tumpangi. Opsi ini mungkin murah, tapi kemungkinan sulit mendapatkan angle eksklusif karena ada wartawan lain yang ikut rombongan. Pertimbangkan transportasi yang akan digunakan saat meliput di lokasi bencana.

  • Uang tunai

Jangan membawa uang tunai berlebihan saat berada di lokasi bencana. Bawa uang tunai yang cukup untuk kebutuhan meliput anda selama di lokasi bencana. Pertimbangan: mesin ATM mungkin rusak dan bank-bank tutup selama masa tanggap darurat bencana. Namun jurnalis juga jangan sampai menjadi korban perampokan karena membawa uang berlebihan.

Teks: Indri Maulidar

ARTIKEL TERKAIT

RISET